Pertigaan Muara Sungai Mangkir dan Saragih, Batas Daerah Pemkab.Tapteng.

Manduamas, Sibolga Pos|
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, harus menempuh PT. Sinar Gunung Sawit Raya (PT.SGSR ), avdeling VIII, dengan berjalan kaki selama 2 jam untuk mengecek patal batas yang ditetapkan oleh pihak Pemerintah Provinsi NAD.

Solli Meha warga, Pasar Onan Manduamas Kecamatan Manduamas, mengaku ada tapal batas tepatnya Kebun sawit milik PT.SGSR yang dibuat oleh pihak BPN.

Sementara ada juga tapal batas yang dibuat oleh Provinsi Nangroe Aceh Darussalam tanpa sepengetahuan masyarakat Manduamas.

Nukdin Tumanggor (30) warga dusun Simanuk-manuk Desa Manduamas baru, mengaku sudah lebih 2 tahun berdomisili didaerah itu namun tidak mengetahui kapan dan siapa yang membuat tapal batas tersebut.

“Kami pun bingung kenapa bisa dibilang tanah yang kami tempati ini daerah Pemerintahan Provinsi NAD, dirinya mengaku sejak lama lokasi bermukimnya adalah bagian dari Kelurahan Pasar Onan Manduamas Kecamatan Manduamas Kabupaten Tapanuli Tengah.

Solli Meha, penduduk Kelurahan Manduamas juga mengaku sudah berdomusili didaerah itu sejak tahun 1971.

Di tambahkan lagi bahwa batas yang dulu antara Kelurahan Pasar Onan Manduamas Tapanuli Tengah dengan Aceh Singkil Provinsi NAD di mangkir, terkait, tapal batas yang di buat oleh Pihak Provinsi NAD dirinya mengaku muncul seketika serta penetapan sepihak.

“Saya tidak mengetahui pastinya kapan tapal batas itu dibuat, hanya pihak propinsi NAD yang hadir sementara pihak Kabupaten Tapteng Provinsi Sumut tidak mengetahuinya,”ungkap nya.

Lebih lanjut Solli mengatakan, Propinsi Aceh membuat patal batas sekira 10 tahun lalu, sementara yang diketahuinya batas itu tepatnya di ujung manuk pertigaan muara sungai mangkir dan saragih ditepi pantai, patok tersebut selanjutnya digeser untuk menghindari akibat gelombang laut,”jelasnya.

Camat Manduamas, Marihot Simbolon juga mengatakan bahwa, mengenai tapal batas yang di buat pihak Propinsi NAD tidak sepengetahuan Pemerintahan Kecamatan juga Kabupaten Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara.

Baca Juga Berita Ini :  Masyarakat Tetap Produktif dan Aman Hidup Berdampingan Dengan Covid-19

“Saya selaku camat tidak mengetahui pasti kapan patok itu dibuat oleh pihak Propinsi NAD, haya mereka yang membuat patok tersebut,”katanya.

Bagian Otonomi Daerah Tapanuli Tengah, German Sitompul, S.AP.M.AP dan Staf Donni Anto Purba, Jonni Simatupang, mengatakan setelah dilakukan tinjauan lapangan, titik koordinat PBU berada disekitar pertigaan muara sungai mangkir dan sungai saragih yakni LU=02° 10′ 23.3″. BT=098° 07′ 29.2”. menjadi patal batas. (Allin )

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *