Merawat Persatuan dan Menepis Kebohongan Demi Menyongsong Masa Depan

Oleh : Andi Dwi Setiawan

Perjalanan yang panjang dan berat telah dirasakan serta dialami segenap masyarakat Indonesia untuk mencicipi manisnya kebebasan dalam sebuah kemerdekaan. Kurang lebih 350 tahun bangsa Indonesia terbelenggu dan tersiksa oleh pedihnya penjajahan oleh bangsa lain. Perjuangan yang sangat sengit dan bergelimang darah untuk membela dan mempertahankan kemurnian dan harga diri tempat tinggal mereka yaitu bumi Pertiwi.

Kemerdekaan yang dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 adalah hasil perjuangan masyarakat Indonesia dengan berbagai pengorbanan dari generasi ke generasi dan merupakan buah dari usaha dan doa yang mereka lakukan serta haturkan disetiap harinya. Namun selepas tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan itu masih belum seutuhnya milik bangsa Indonesia.

Karena masih belum dapat pengakuan dari penjajah terutama Belanda dan sekutu saat itu, membuat bangsa Indonesia masih harus berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah dideklarasikan.

Gejolak perlawanan diberbagai daerah di Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Belanda dan Sekutu masih bersikuku untuk bisa merebut kemerdekaan yang telah dideklarasikan. Melihat perlawanan yang begitu sengit dan memakan korban yang tak sedikit, pihak Belanda dan Sekutu mulai menggunakan cara-cara licik dengan iming-iming perjanjian-perjanjian yang pada akhirnya akan merugikan bangsa Indonesia itu sendiri.

Namun dengan perang yang berkepanjangan dan siasat keji dalam sebuat perjanjian tidaklah cukup untuk membuat bangsa Indonesia bertekuk lutut kembali.

Dengan berbagai faktor yang tidak lagi mendukung bangsa Belanda mulai dari pasukan, persenjataan, dan pembiayaan serta desakan dari bangsa lain. Dari faktor itulah yang kemudian diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang bermuara diakuinya kedaulatan Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, sehingga memaksa Belanda keluar dari bumi Pertiwi.

Baca Juga Berita Ini :  Demi Wujudkan SDM Unggul, Presiden Jokowi Penuhi Aspirasi Tokoh Papua

Mungkin mayoritas dari kita pernah membaca ataupun mendengarkan pesan tersebut dari Bapak Ir.Soekarno. Pesan tersebut merupakan suatu peringatan kepada Bangsa Indonesia, karena perjuangan belumlah usai, namun sejatinya perjuangan barulah dimulai.

Dan tantangan yang kita hadapi nantinya adalah bukan orang lain namun saudara kita sendiri. Perjuangan dalam membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mandiri dengan keakayaan alam yang dimiliki yang tidak lain diperuntukan untuk kesejahteraan Masyarakat Indonesia.

Kita patut bersyukur karena bangsa Indonesia dianugerahi oleh tuhan dengan begitu banya kekayaan dan keanekaragaman alam,suku bangsa, budaya, bahasa, dan segala sesuatu yang ada didalamnya. Yang mana kekayaan ini membuat rasa iri bangsa lain dan membuat daya tarik tersendiri untuk mereka mengenal lebih jauh tentang Indonesia. Namun selain memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, disisi lain kekayaan dan keanekaragaman tersebut bisa menjadi ancaman untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ancaman yang dimaksud disini adalah terjadinya konflik secara horizontal di masyarakat Indonesia yang bersumber dari keanekaragaman tersebut.

Untuk itu diperlukanya sebuah rasa persatuan dan cinta tanah air serta saling menghargai satu satu sama lain. Pengalaman Pancasila adalah cara yang tepat untuk meminimalisir konflik horizontal yang terjadi ditengah perbedaan yang ada di Indonesia. Pancasila adalah ideologi yang sudah final dan merupakan rumusan terbaik untuk bangsa Indonesia kedepannya.

Berbicara banyak tentang perjuangan bangsa Indonesia hingga saat ini, tak baik rasanya jika kita tak belajar dari apa yang sudah terjadi dimasa lalu. Karena guru terbaik dalam hidup ini adalah pengalaman. Teringat akan sebuat pesan, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin maka kita beruntung, jika hari ini sama seperti kemarin maka kita merugi, tetapi jika hari ini kita lebih buruk dari hari kemarin kita celaka. Lantas bagaimanakah keadaan Indonesia saat ini?

Baca Juga Berita Ini :  Komitmen Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan di Papua

Memasuki usia ke 74 tahun bukanlah usai yang dibilang muda lagi untuk suatu negara. Pada usia inilah seharusnya kematangan akan pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya sudah dapat dinikmati. Namun Indonesia saat ini masih berbenah dengan berbagai masalah yang masih menghalangi untuk terwujudnya negara yang maju.

Permasalahan yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia adalah masalah pengangguran, kesenjangan sosial, kemiskinan, perekonomian dan kesehatan.

Salah satu cara untuk mewujudkan apa yang telah direncanakan dalam program kerja 5 tahun mendatang adalah dengan menciptakan situasi dalam politik serta pemerintahan yang sejuk. Tanpa adanya suatu kejadian yang membuat keruh dan menyebabkan jalannya program kerja terganggu. Serta semua pihak dapat secara bersama-sama mengawasi jalanya pemerintahan dan memberi masukan apabila terdapat kekeliruan. Kebebasan berpendapat ini telah diatur dan dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28E Ayat (3): “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Pada zaman sekarang, kebebasan berpendapat tak hanya di dunia nyata, namun juga sudah merambah ke dunia maya/digital/ media social. Namun dalam implementasinya masih banyak orang yang menyalahgunakan kebebasan berpendapat ini dengan tujuan menjatuhkan orang lain. Ini merupakan salah satu dampak negative dari perkembangan teknologi yang semakin canggih terutama dalam bidang teknologi, informasi dan komunikasi.

Hoaks adalah salah satu penyimpangan dalam kebebasan berpendapat. Hoaks merupakan berita bohong yang biasanya berisi informasi yang salah dan tak sedikit yang merugikan orang lain. Para pelaku yang dengan sengaja membuat dan menyebarkan hoaks pasti mempunyai niatan yang jahat. Menurut data dari Kemenkominfo sekitar 800.000 situs di Indonesia telah terindikasi sebagai penyebar hoaks atau berita bohong.

Dengan banyaknya berita hoaks yang beredar di masyarakat Indonesia, untuk itu kita dituntut untuk lebih teliti dan menyaring informasi yang kita dapat serta tidak mudah percaya akan informasi yang terindikasi provokasi.

Baca Juga Berita Ini :  Irjen Firli Bawa Angin Segar di KPK

Tujuan dari hoaks itu sendiri adalah ingin membuat resah dan mengadudomba masyarakat Indonesia dan hal ini dapat mengganggu system pemerintahan yang sedang berjalan. Karena tak sedikit hoaks yang ditujuan kepada pemerintahan dan masayarakat yang terlalu mudah percaya yang kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk merusak kepercayaan terhadap pemerintahan
Salah satu yang dapat kita lakukan untuk membrantas hoaks adalah dengan kita membaca informasi dari sumber-sumber yang terpercaya dan sudah terbukti kredibilitasnya. Untuk itu situs kataindonesia.com terus menyajikan kebutuhan informasi seputar politik, pemerintahan,ekonomi,olahraga, hingga kuliner baik skala nasional maupun internasional. Kataindonesia.com terus berupaya untuk membrantas hoaks yang beredar ditengah masyarakat dengan menyajikan informasi berupa fakta.

Jadi tidak ada lagi alasan untuk kita termakan dengan berita hoaks, karena sudah ada begitu banyak sumber referensi informasi yang pastinya menyajika fakta. Dan jika kamu menemukan adanya informasi hoaks yang tersebar di masyarakat, alangkah baiknya kamu juga ikut ambil andil dalam hal memberantasnya. Yaps memberantasnya bukan malah ikut menyebarnya. Jadilah generasi yang bijak dalam mengolah informasi untuk kebaikan Indonesia dikemudian hari.

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *