Mewujudkan Pilkada Damai Tanpa Hoax dan SARA

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 akan segera digelar. Kendati demikian, pelaksanaan tersebut masih dibayangi oleh ancaman hoax dan isu SARA yang dapat memicu perpecahan di masyarakat. Setiap pihak pun perlu bersama-sama mewujudkan Pilkada Damai 2020 tanpa hoax dan isu SARA.

Di tahun 2020 nanti, Pilkada serentak akan digelar di 270 daerah di Indonesia dengan rincian; 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Tepat pada tanggal 23 September 2020 akan dilakukan bersama-sama di daerah.

Kampanye antar partai dan Paslon pun semakin digenjot, mencoba meraup suara dari segala daerah. Para ahli Pilkada, baik partai maupun konsultan, tentu sudah memetakan wilayah-wilayah mana saja yang dapat menjadi lumbung suara, wilayah massa mengambang serta wilayah rawan kekalahan.

Pilkada adalah pengumpulan suara rakyat, maka tidak heran wilayah dengan jumlah penduduk yang besar menjadi hidangan yang diperebutkan. Satu wilayah yang begitu menggoda untuk diperebutkan oleh partai dan Paslon adalah Jawa Barat. Menduduki provinsi berpenduduk terbanyak, dipastikan Jawa Barat adalah sumber suara untuk kedua Paslon, ditambah dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar tentu biaya yang digunakan untuk kampanye dapat ditekan.

Sebanyak delapan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini. Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengajak masyarakat dan elite politik di delapan daerah tersebut untuk senantiasa menjaga kondusivitas.

Kang Emil juga berpesan kepada semua pihak untuk menjaga persaudaraan dan kondusifitas jelang pelaksanaan Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) serentak 2020. Ia mewanti-wanti untuk memerangi berita bohong (hoax) dan isu SARA. Menurutnya, Pilkada merupakan agenda pesta demokrasi yang sudah rutin digelar. Oleh karenanya, jangan ada perpecahan dalam momentum politik tersebut.

Baca Juga Berita Ini :  Pemerintah Tetapkan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Salah satu upaya untuk menguatkan ukhuwah atau persaudaraan, yakni dengan menyaring informasi yang tersebar baik melalui media sosial ataupun pesan dari aplikasi percakapan. Menurutnya informasi bohong dapat memicu perpecahan. “Ketika mendapatkan informasi, cek terlebih dulu kebenarannya. Cek di media yang bisa dipercaya. Kalau tidak ada di pemberitaan, jangan dishare,” ungkap Emil.

Provinsi Jawa Barat memang wilayah strategis, karena prosentase kemenangan Pilkada di Jawa Barat mampu menjadi barometer Pilpres 2024 mendatang.

Adanya momen ini harus dimanfaatkan semua pihak untuk sepakat menjalankan dan mengawal Pilkada agar berjalan secara kondusif. Mulai dari menginisiasi silaturahim bakal calon bersama stakeholder serta masyarakat dalam membangun kesepakatan (konsensus) untuk meminimalisir potensi patologi demokrasi khususnya berita hoax. Sebab, hoax dapat memicu munculnya distrust (prasangka dan ketidakpercayaan) akan hasil pilkada yang pada akhirnya akan menjadi lembar baru konflik di dalam masyarakat.

Guna menangkal informasi hoax dan SARA, patutnya masyarakat perlu memperhatikan lima langkah sederhana yang mampu membantu mengidentifikasi informasi palsu atau asli.

1.Hati-hati dengan judul provokatif
Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

2.Cermati alamat situs
Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

3.Periksa fakta
Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Baca Juga Berita Ini :  Pemerintah Gratiskan Pelanggan Listrik 450 VA dan keringanan Biaya Pemakaian 50% Dengan Daya 900 VA Selama Tiga Bulan Mendatang

4.Cek keaslian foto
Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

5.Ikut serta grup diskusi anti-hoax
Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Oleh : Andi Setya)* Penulis adalah mahasiswa jurusan ilmu politik UNJ

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *