Beribadah di Rumah Cegah Penularan Covid-19

Oleh : Edi Jatmiko )*

Umat Muslim menyambut Ramadhan 1441 H dengan suasana yang berbeda akibat pandemi Covid-19. Tidak seperti suasana Ramdhan di tahun-tahun sebelumnya, Umat Muslim saat ini harus dapat beribadah di rumah masing-masing sebagai upaya adaptasi terhadap situasi pandemi Covid-19. Anjuran tersebut tidak hanya dikeluarkan oleh Majelis Ulama Senior Arab Saudi namun juga oleh Mejelis Ulama Indonesia (MUI). Selain tidak mengurangi kekhusyukkan, beribadah di rumah juga mampu mencegah penularan Covid-19.

Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan dan keberkahan. Satu perbuatan positif meskipun hanya menyingkirkan duri di jalan, diganjar dengan pahala berlipat ganda, jika dibandingkan dengan di bulan-bulan lainnya. Kaum muslimin menyambut Ramadhan dengan gembira dan berlomba-lomba untuk mendapat pahala, dengan beribadah lebih intens, misalnya dengan rajin bersedekah dan mengaji lebih sering.

Begitu pula dengan salat 5 waktu. Kaum muslimin biasanya lebih memilih untuk melakukannya di masjid, mumpung bulan Ramadhan, karena mengharap pahala besar. Salat wajib ini juga diiringi dengan salat tarawih setelah isya, dan banyak masjid yang selalu dipadati oleh jamaah yang antusias beribadah.

Sayangnya pandemi akibat menyebarnya corona menyebabkan ada anjuran untuk salat jamaah 5 waktu dan tarawih di rumah saja. Hal ini membuat sebagian orang merasa kecewa, karena menganggap Ramadhan tanpa tarawih itu hampa. Mereka sedih karena seakan-akan dilarang untuk salat di tempat yang suci dan gagal untuk mendapat pahala yang besar.

Anjuran untuk stay at home plus salat jamaah dan tarawih di rumah saja sebenarnya bukan merebut hak pribadi warga negara. Namun merupakan sebuah upaya agar semua lapisan masyarakat sehat dan tidak terkena corona. Semua aturan ini sebenarnya untuk keamanan bersama. Upaya tersebut juga merupakan bentuk adaptasi terhadap situasi pandemi Covid-19.

Bayangkan jika semua orang nekat untuk salat jamaah di masjid dan bersalaman satu sama lain, maka jika ada 1 saja orang yang membawa virus covid-19, akan menyebar ke seluruh orang di masjid. Lantas orang itu pulang dan menularkan penyakit corona ke keluarganya.

Penyebaran penyakit ini akan semakin luas. Jika seperti ini, sampai kapan pandemi ini akan berakhir?
Lebih baik taati aturan untuk salat jamaah dan tarawih di rumah saja. Lagipula masih berpahala, bukan? Adaptasi dari salat tarawih di masjid lalu dipindah ke rumah sebenarnya tidak terlalu rumit. Lakukan saja di musala rumah atau pasang karpet yang bersih di ruang tamu, jika tidak ada tempat khusus untuk beribadah di hunian Anda.

Jika salat jamaah dan tarawih dilarang untuk dilakukan beramai-rama di masjid, begitu pula dengan ibadah lain seperti sahur on the road. Kegiatan ini memang bisa menangguk pahala besar, karena biasanya banyak orang yang makan sahur di jalanan sambil bagi-bagi beras zakat, nasi kotak atau sembako pada fakir miskin. Namun tahun ini harus vakum untuk sementara, karena ada aturan untuk social distancing dan stay at home. Oleh sebab itu, umat Muslim dan umat agama lainnya harus mampu beradaptasi dengan segala situasi ada sebagai sebuah situasi normal yang baru.

Anda masih bisa beramal dengan menyalurkan beras zakat, nasi kotak dan paket sembako ke badan amal terpercaya. Mereka bisa memberikan langsung kepada pemulung, pengamen, dan fakir miskin yang ada dan sudah tercatat di database. Jadi Anda tidak usah terjun langsung ke jalan. Sedekah tetap bisa dilakukan dan Anda menaati aturan untuk stay at home.

Melakukan adaptasi pada ibadah saat Ramadhan, ketika pandemi corona ini mudah saja. Anda tidak usah marah-marah karena ada aturan untuk tarawih di rumah dan larangan sahur on the road. Yakinlah bahwa hal ini dijalankan agar semua orang sehat dan tidak tertular virus corona.

Umat muslim masih bisa mendapat pahala walau salat tarawih di rumah dan menyalurkan beras zakat dan sedekah melalui badan amal. Taatilah aturan untuk social distancing dan stay at home. Bukankah beradaptasi itu sebenarnya mudah? Anda masih bisa mendapat pahala wala di rumah saja.

)* Penulis adalah warganet, aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *