Masyarakat Mengutuk Pembakaran Pesawat oleh KKSB Papua

Oleh : Sabby Kosay )*

Kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) adalah organisasi pemberontak yang meresahkan, karena menggunakan senpi untuk menakut-nakuti warga. Bahkan mereka ketahuan membakar pesawat. Meski tidak ada korban jiwa, namun peristiwa ini membuat masyarakat makin antipati pada KKSB.

Papua adalah daerah yang eksotis dan saat ini sudah mengalami banyak kemajuan. Terbukti provinsi Papua dan papua barat dipercaya jadi tuan rumah pekan olahraga nasional (PON) tahun 2021. Namun sayang ada permasalahan di Bumi Cendrawasih yang masih menahun, yakni gangguan kelompok pemberontak alias OPM.

Intan Jaya adalah wilayah di Papua yang rawan, karena beberapa kali diganggu oleh kelompok separatis. Beberapa kali KKSB, pasukan milik OPM, melakukan penembakan di sana. Tanggal 6 januari 2021 terjadi lagi tragedi di Intan Jaya, ketika sebuah pesawat milik Mission Aviation Fellowship dibakar oleh kelompok kriminal separatis bersenjata.

Socratez S Yoman, Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua, bereaksi keras terhadap peristiwa itu. Penyebabnya karena pesawat MAF ternyata diisi oleh misionaris. Sehingga pembakaran tersebut adalah perlawanan terhadap keagungan Tuhan. Dalam artian, bagaimana bisa mereka tega membakar pesawat, dan mengancam keselamatan pemuka agama?

Amatlah wajar jika Socrates marah, karena misionaris adalah pembawa kedamaian, namun malah dihalangi oleh KKSB. Menurutnya, Papua adalah daerah yang besar namun dirusak oleh berbagai kepentingan dari luar. Karena mereka menginginkan kekayaan alam di Bumi Cendrawasih. Sehingga memanfaatkan kelompok separatis yang cenderung emosional.

Socrates melanjutkan, untuk mengademkan wilayah Papua, maka perlu ada siraman rohani dan penyatu perdamaian. Oleh karena itu ia dan kelompoknya gencar mengirim para misionaris hingga ke pelosok Papua. Namun pesawatnya malah dibakar oleh KKSB, sehingga menyulitkan transportasi mereka ke daerah pegunungan dan wilayah terpencil lainnya.

Sebagai tokoh masyarakat, Socrates mewakili suara hati warga sipil Papua. Karena mereka sudah lelah dengan segala kekejama KKSB. Wajar jika masyarakat langsung mengutuk pembakaran pesawat tersebut. Walau tidak ada korban jiwa, namun tentu saja pemiliknya mengalami kerugian hingga ratusan juta. Lantas KKSB tak mau bertanggungjawab dan kabur begitu saja.

Apalagi jika api merembet hingga ke bagian penyimpan avtur. Dikhawatirkan akan meledak dan menimbulkan korban selanjutnya. Bagaimana jika kemungkinan buruk ini benar-benar terjadi? Jika ada korban jiwa, maka bisa dikategorikan sebagai pembunuhan berencana. Apalagi kobaran api sebenarnya juga bisa merambat ke tubuh anggota KKSB sendiri, sehingga sangat bahaya.
Kolonel Nyoman Suriastawa, Kepala Penerangan III Wilayah Papua menyatakan bahwa pembakaran pesawat tersebut melibatkan massa dan ada tindakan brutal dari mereka. Kondisi ini akan menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat. Selain itu, KKSB juga pernah mengancam akan mengacaukan setiap penerbangan sipil di Papua dan Papua Barat.

Ancaman KKSB ini sangat meresahkan, karena gangguan penerbangan amat menyulitkan transportasi di Papua. Penyebabnya karena di Bumi Cendrawasih masih ada wilayah yang sulit dijangkau oleh jalan darat, seperti di Yakuhimo dan beberapa daerah lain. Sehingga sangat butuh pesawat sebagai alat transportasi utama.
Ketika KKSB mengancam akan membakar pesawat, maka mereka juga menyusahkan banyak orang, karena selain transportasi terhambat, distribusi sembako dan barang lain juga akan susah dilakukan. Oleh karena itu, KKSB dan OPM wajib dibasmi. Agar tidak meresahkan masyarakat dan mengganggu kehidupan, ketertiban, dan perdamaian di Papua.

Pembakaran pesawat misionaris di Intan Jaya, Papua, oleh KKSB adalah peristiwa naas yang merugikan banyak orang. Karena para misionaris kesulitan untukmenyebarkan perdamaian di Bumi Cendrawasih. Kelompok separatis ini wajib ditangkap agar tidak lagi mengacau di Papua dan menakut-nakuti warga sipil di sana.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *