Pemerintah Terus Memaksimalkan Pengadaan Vaksin Covid-19

Oleh : Dodik Prasetyo )*
Progam vaksinasi nasional sudah dimulai sejak awal 2021 dan pemerintah terus berusaha untuk menambah stok vaksin. Karena penduduk Indonesia ada lebih dari 220 juta dan harus disuntik 2 kali, sehingga butuh 400 dosis vaksin. Masyarakat tidak usah khawatir karena pemerintah berusaha agar stok vaksin mencukupi agar semua WNI mendapatkannya.

Usaha untuk keluar dari fase pandemi adalah dengan progam vaksinasi nasional, karena ketika semua sudah disuntik vaksin, akan terbentuk herd immunity. Sehingga semua orang sehat, tak ada lagi penularan virus covid-19 dan bebas 100% dari corona. Vaksin yang digunakan untuk program ini adalah Sinovac, AstraZeneca, dan beberapa jenis lain.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah mengamankan 90.910.500 vaksin. Rinciannya, 84,5 juta vaksin Sinovac, 1 juta dosis Sinopharm, dan sisanya AstraZeneca dan Covax.
Penduduk Indonesia ada lebih dari 220 juta orang sedangkan vaksin baru ada kurang dari setengahnya. Namun masyarakat tak perlu khawatir karena pemerintah akan terus menepati janjinya untuk menyediakan vaksin dan penyuntikannya tetap gratis. Segala upaya akan dilakukan agar persediaan vaksin tetap mencukupi bagi seluruh WNI.

Menteri Retno menambahkan, salah satu kendala dalam pengadaan vaksin adalah distribusi yang lambat. Penyebabnya karena kapasitas produksi masih terbatas. Memang vaksin corona adalah barang baru dan produsennya terus bekerja keras agar bisa menyuplai sesuai pesanan. Namun karena pandemi covid-19 terjadi secara global, tetap saja yang diproduksi masih kurang.

Pabrik vaksin yang ada di RRC dan beberapa negara lain memang terus memproduksi vaksin yang berkualitas tinggi, agar pandemi covid-19 segera berakhir. Oleh karena itu, kita diminta sabar karena kecepatan produksi pabrik vaksin sudah sesuai standar dan mereka memang diburu waktu, juga diminati oleh banyak negara lain.

Baca Juga Berita Ini :  Tindak Tegas Pemotong Dana Bansos di Masa Pandemi Covid-19

Selain masalah distribusi, pengadaan vaksin juga terkendala masalah ekspor. Saat pandemi memang ada beberapa negara yang masih lockdown atau membatasi pengiriman dari negara tertentu, sehingga ekspor barang-barang agak susah dilakukan, termasuk vaksin. Sehingga agak tersendat dan tidak sesuai dengan jadwal.

Akan tetapi masyarakat tidak usah khawatir karena proses pengadaan vaksin akan tetap diusahakan agar sesuai dengan target. Karena target dari program vaksinasi nasional adalah maksimal 12 bulan selesai, sehingga persediaan vaksin harus ada sebelum itu. Pemerintah akan tetap memperhatikan kesehatan rakyatnya dan berusaha agar persediaan vaksin aman.

Mungkin ada masyarakat yang agak heran, mengapa vaksin yang beredar di Indonesia tidak hanya 1 saja (misalnya Sinovac saja). Logikanya begini: pandemi adalah kejadian global sehingga hampir seluruh orang di dunia terancam oleh penyakit corona. Oleh karena itu, keberadaan vaksin bagaikan emas yang dicari oleh semua orang.

Sehingga jika mengandalkan 1 produsen vaksin saja akan menunggu lama. Oleh karena itu, pemerintah tak hanya mengambil vaksin Sinovac saja, tetapi juga Sinopharm, AstraZaneca, dll. Persediaan vaksin akan sesuai dengan target jumlah dan waktu, sehingga diharap pada pertengahan tahun 2022 seluruh WNI sudah divaksinasi corona.

Masyarakat tidak usah khawatir akan kualitasnya karena walau efikasinya berbeda-beda, efeknya hampir sama. Setelah divaksin, tubuh akan lebih kebal dari virus covid-19 tetapi tidak boleh melepas masker karena pandemi belum 100% selesai. Lebih baik kita mencegah dan menaati protokol kesehatan, daripada terjadi hal-hal yang buruk.

Pengadaan vaksin covid-19 terus digenjot oleh pemerintah sehingga akan tersedia cukup untuk seluruh rakyatnya. Sehingga kita bisa bebas corona secepatnya dan bebas dari siksaan pandemi. Masyarakat diminta untuk tenang sambil menunggu giliran vaksinasi, karena stok akan diusahakan untuk mencukupi.

Baca Juga Berita Ini :  PPKM Efektif Tekan Keterisian Rumah Sakit dan Angka Positif Covid-19

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Baca Juga Berita ini

About the Author: Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *